Bahagia di rumah kenangan

Bahagia di rumah kenangan

Bahagia di rumah kenangan

Seperti biasa diakhir pekan, bersamaan dengan liburnya anak-anak sekolah, kusempatkan untuk mengunjungi mama di rumah tempat kuhabiskan masa kecil hingga remajaku.

Rumah tempat aku dibesarkan bersama mama, bapak dan dua asik laki-lakiku. Rumah itu dahulu hanya bertipe 42. Seiring dengan waktu, bapak yang kebetulan berlatar belakang teknik, perlahan membangun rumahnya menjadi lebih besar.

Betapa waktu cepat berlalu, secepat Allah memanggil Bapak keharibaan-Nya. Diawal tahun 2017, rumah kami berselimut duka.Mama tinggal dirumah kami ditemani oleh adikku yang paling kecil. Untuk mengusir sepi dan jenuh, mama membuka kios untuk berdagang di teras rumah.

Pada suatu senja, putriku yang paling besar berkata pada mama, ” yuk yangti, main ke rumah kita dan menginap di sana.” Mamaku tersenyum dan akhirnya beliau ikut dengan kami untuk menginap di rumah kami. Keempat anakku sangat senang, karena baru kali ini neneknya mau turut serta ikut dengan kami ke daerah Bumi Serpong Damai. Mama menginap di rumah kami selama dua malam.

Dalam kesempatan lain, anak-anakku mengajak kembali neneknya untuk main ke Bumi Serpong Damai, namun mama menolak. Anak-anakku bertanya padaku mengapa neneknya tak mau ikut bersama kami. Mereka begitu kecewa.

Saat berbicara dengan mama tentang rencana beliau selanjutnya bagaimana, mau ikut siapa diantara kami bertiga. Aku dan keluargaku di Bumi Serpong Damai atau ikut adikku du daerah Kalibata. Mama lebih memilih tinggal di rumah sendiri, rumah kenangan. Akupun melihat, mama bahagia di sana, walau jika siang hari harus sendiri di rumah. Aku sadar, rumah kami ini menyimpan beribu kenangan. Kenangan bersama Bapak, kenangan tentang masa kecil kami dan ribuan peristiwa yang sudah hadir menghiasi hidup kita.

Akhirnya aku sampaikan pada anak-anakku, alasan mengapa nenek mereka enggan meninggalkan rumah kenangannya. Mama lebih bahagia bila tinggal di rumahnya sendiri.

Bukan karena tak sayang pada kita, namun nenek memang lebih merasa nyaman jika bertempat tinggal di sana.

Suatu ketika nanti, mungkin aku akan mengalami apa yang mama rasakan saat ini. Kelak anak-anak nanti akan mandiri bersama keluarganya masing-masing.  Mungkin juga aku akan menolak jika diajak  serta untuk tinggal bersama mereka. Karena akupun mempunyai rumah kenangan sendiri. Biarlah anak-anak nanti memahami sendiri, bahwa keluarga dan segala kenangan indahnya sungguh begitu berharga. Tak akan ada yang mampu menghargai semua peristiwa indah di dalamnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *