My Baby dan Baperku

My Baby dan Baperku

My Baby dan Baperku

Selamat sore sahabat blogger, pada kesempatan kali ini saya akan bercerta tentang kebimbangan saya saat meninggalkan bayi saya, untuk kembali bekerja setelah cuti melahirkan habis.

Dahulu ketika anak pertama lahir, saya sempat mengalami kebimbangan. Saya bahagia ketika bisa cuti selama tiga bulan untuk menemani buah hati di rumah. Namun setelah masa cuti habis, saya kembali kecewa, karena harus meninggalkan anak saya yang masih berusia tiga bulan bersama mbak pengasuh di rumah.

Saya semakin sedih karena anak saya tidak mau minum susu ASI perah lewat dot. Jadi mbak pengasuh menyuapinya ASI dengan menggunakan sendok. Konsumsi minum susunya pun sangat sedikit. Bayi saya sering menolak untuk minum hingga akhirnya berat badannya kurang.

Saya sedih bukan kepalang, bimbang apakah saya harus berhenti bekerja? Saat itu saya masih memilih untuk bekerja, karena ingin dapat membantu suami. Saya bingung sekali saat itu. Saya ingin resign dari tempat kerja dan memilih untuk bersama dengan bayi saya.

Supervisor di tempat saya bekerja tampak memperhatikan saya. Akhirnya saya menceritakan pada beliau, jika bayi saya kesulitan minum dengan dot. Tanpa saya meminta, beliau mengizinkan saya untuk mengambil waktu istirahat 20 menit lebih awal dan mengizinkan saya pulang untuk menyusui bayi saya. Akhirnya setiap pukul 11.45 saya pulang ke rumah untuk menyusui dan kembali lagi ke kantor pada pukul 13.00. Saya sangat mengapresiasi kebaikan supervisor saya, karena beliau sudah sangat pengertian dan perhatian pada saya dan bayi saya.

Pada suatu ketika, muncul kembali masalah dari mbak pengasuh saat itu. Saya mengambil mbak tersebut dari agen penyedia baby sister. Si mbak saat itu sudah bekerja selama hampir dua bulan. Suatu malam kala saya baru pulang kantor, si mbak meminta izin untuk pulang kampung, karena orang tuanya sakit. Saya sampaikan padanya, kalau baru bekerja dua bulan, belum diperbolehkan pulang kampung. Namun karena saya merasa kasihan, saya izinkan dia pulang selama satu minggu saja. Setelah saya izinkan pergi, saya menantinya untuk kembali, namun pada kenyataannya dia tidak pernah kembali untuk bekerja.

Ketika mengalami hal tersebut, akhirnya saya harus mengajukan cuti mendadak lagi karena tak ada yang menjaga bayi saya. Saya menunggu pihak yayasan untuk memberikan mbak pengganti, karena masa garansi yang masih saya miliki.

Akhirnya kabar baik yang saya nanti, datang juga. Seminggu kemudian, saya mendapatkan mbak pengganti dari yayasan tempat saya mengambil mbak yang pertama. Lagi-lagi saya harus mengajukan cuti untuk mengajarinya banyak hal seputar pengasuhan bayi saya. Saya membuatkan jadwal untuk minum ASI dan mengajarinya untuk menyiapkan ASI perah yang akan dikonsumsi bayi saya.

Selama saya cuti, saya mencoba untuk menyuapi ASI perah pada bayi saya dengan sendok. Saya melatihnya agar saat saya tinggal bekerja, ia memjadi terbiasa. Beruntung mbak yang kedua ini, cukup sabar dalam mengasuh bayi. Perlahan-lahan bayi saya mau disuapi ASI perah dengan sendok. Saya merasa agak sedikit tenang selama meninggalkannya untuk bekerja.
Setelah mengalami berbagai masalah tersebut, saya berpikir, jika nanti saya melahirkan anak kedua nanti, saya akan sesekali mengajarinya minum dengan dot atau sendok, agar terbiasa saat saya tinggal nanti. Saya tak ingin bayi saya mengalami kesulitan minum dengan dot maupun sendok, yang akan berpengaruh pada berat badannya nanti.

Demikian sharing saya tentang kebaperan saya saat menghadapi bayi sayĆ  yang kesulitan minum ASIP dengan dot maupun sendok. Semoga memberikan manfaat bagi sahabat blogger semua.

(Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *