Produktif Berkarya dengan Buku Antologi

Produktif Berkarya dengan Buku Antologi

 

Produktif Berkarya dengan Buku Antologi

Belajar itu tak mengenal usia”

Benar adanya pernyataan di atas. Belajar tak mengenal batas, berapapun usianya. Mau muda atau tua, jika masih terdapat kemauan, pasti akan menemui kemudahan.

Saat ini banyak terdapat hobi positif yang dapat dikembangkan. Diantaranya adalah hobi menulis. Kita dapat menulis cerita pendek, cerita bersambung, puisi, resensi buku dan lain sebagainya. Kali ini saya hendak membahas tentang produktif berkarya dengan menulis buku antologi.

Buku antologi adalah buku yang naskahnya dibuat oleh dua orang atau lebih. Biasanya bentuk buku antologi berupa kumpulan cerita pendek, kumpulan kisah inspiratif, kumpulan puisi, kumpulan artikel dan lain sebagainya.

Biasanya pembuatan buku antologi diadakan oleh komunitas menulis atau kelas memulis odfline maupun online. Menulis buku antologi adalah puncak dari pelatihan menulis itu sendiri.Tujuan menulis buku antologi adalah untuk mempraktikkan ilmu menulis yang didapat dari kelas menulis.

Setiap penulis biasanya mengumpulkan naskah sebanyak lima hingga delapan lembar dalam setiap proyeknya. Dengan ketentuan standar seperti membuat yaitu dengan margin 3,3,3,3 spasi 1,5, huruf calibri atau times new roman berukuran 16 dan 12.

Setiap proyek menulis buku antologi biasanya akan ditunjuk satu orang PJ (Penanggung Jawab) yang bertugas untuk mendata serta melakukan kompilasi naskah. Setiap penulis yang bergabung dalam proyek menulis buku antologi diharapkan patuh pada jadwal yang telah ditentukan, agar penerbitan buku antologi dapat sesuai dengan rencana.

Sejak tiga tahun lalu, say pun mengikuti aneka pelatihan menulis yang bebas biaya serta berbayar. Saya mengikuti pelatihan menulis fiksi dan non fiksi. Setelah mengikuti pelatihan, saya mulai untuk berkarya melalui buku antologi berupa kumpulan cerita pendek bertajuk Perjuangan Wanita.

Awal-awal menulis, memang terasa sulit. Dengan adanya mentor menulis saya mendapat bimbingan menulis. Saya ingat nasihat beliau, agar terus berlatih agar tulisan kita semakin baik. Waktu yang akan menunjukkan hasilnya. Semakin sering kita berlatih, maka tulisan kita akan terlihat perbedaannya.Tentu saja tulisan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Oh ya, satu lagi yang tak kalah penting, saat kita menyerahkan naskah, sebaiknya lakukan self editing juga. Self editing meliputi pengecekan typo, tanda baca, memenggal kalimat yang terlalu panjang dan kenyamanan pembaca saat menyimak tulisan kita. Pada awal menulis, posisi kita adalah seorang penulis. Saat self editing, tempatkanlah diri sebagai pembaca naskah.

Perhatikan, apakah saat membaca naskah tersebut terasa nyaman? Lelahkah kita dengan kalimat-kalimat panjang? Apakah kalimat dibuat tepat sasaran dan mudah dicerna serta dipahami? Jika ada ketidaknyamanan dalam membaca, catatlah secara rinci. Lalu perbaiki naskah untuk kemudian dibaca ulang kembali.

Setelah mengumpulkan naskah pada penanggung-jawab proyek antologi, biasanya proses berlanjut pada editing naskah oleh editor. Jika naskah kita ada yang harus diperbaiki, maka harus segera diselesaikan sesuai tenggat waktu yang diberikan.

Selanjutnya kita menanti proses pencetakan serta penerbitan bukunya.
Untuk jenis tulisan sendiri terdapat dua jenis, yaitu tulisan fiksi atau non fiksi. Dalam proyek pembuatan buku antologi, kita dapat memilihnya. Tak ada salahnya mencoba dalam dua jenis tulisan tersebut.

Nah, untuk sahabat yang sedang belajar menulis dan ingin membuat karya dalam bentuk buku, maka ikutilah proyek menulis buku antologi. Jangan merasa minder ataupun tidak percaya diri, karena tak ada kata terlambat untuk mulai menulis dan berkarya.

Menulis buku antologi adalah langkah awal untuk menelurkan karya. Setelah menulis satu naskah untuk satu buku, nanti pasti akan ingin segera kembali membuat naskah.

Saya melihat banyak penawaran pembuatan buku antologi dalam berbagai komunitas menulis. Jika kita rajin mengikutinya, InsyaAllah dalam satu tahun, kita sudah dapat menelurkan karya paling tidak enam buku antologi. Bagaimana sahabat, tertarikkah untuk produktif berkarya lewat buku antologi? Jangan menunda lagi, yuk mulai dari sekarang ya.

Salam sayang,

Erlina
Tulisan ini diikutsertakan dalam blogging challange Indscript Creative ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *